neu.

Standard

Neu means NEW!
Today is the day. I shud start all over again. From the beginning. From the lowest ground to get my peak back.
I shud REALLY… REALLY understand and begin to throw away my old behavior.
Today is the day. I wanna make him happy. I can’t do anything special, anything extraordinary, but I will do my best with my own way.
And..
TODAY IS THE DAY.. I gotta go to surprise him! Wish me luck! 😉

GALAU.

Standard

Punya blog itu sangat berguna ya. Disaat pikiran saya terlalu penuh, update status di twitter atau facebook pun sudah tidak bisa lagi ngewakilin semua perasaan dan pikiran saya yang meluap-luap.

Ya contohnya seperti yang saat ini saya rasakan. Mungkin untuk sebagian kalian, masalah tentang hubungan kalian dengan partner hidup kalian bukan masalah besar. Kalian mungkin bisa cuek dan menganggap masalah ini mudah. Tapi entah mengapa, masalah ini adalah masalah pertama yang selalu membuat perasaan dan pikiran saya kacau, disamping banyak masalah-masalah lainnya.

Saya tahu saya salah dan saya tahu dia selalu mengingatkan saya. Dia juga selalu mengajarkan saya untuk bisa menjadi dewasa. Itu suatu hal yang positif khususnya untuk diri saya sendiri. Tapi, saya bingung, merubah kebiasaan saya selama 9 tahun hanya dalam waktu kurang dari 6 bulan itu bukan hal yang mudah. Semua hal butuh proses, dan tentunya butuh waktu untuk proses itu.

Selama hampir 6 bulan ini saya mempelajari sifatnya, saya berusaha untuk mengerti apa hal yang disukai dan tidak disukainya. Saya berusaha menghapal semua kebiasaannya. Tak mudah untuk memahami semua itu karena sebagian besar kebiasaan kami sangat berbeda. Ya karena itulah, perdebatan sering terjadi, sakit hati dan amarah yang meluap-luap sering singgah di hati kami masing-masing.

Saya memang belum lulus untuk bisa mengerti dia sepenuhnya. Kami pun seringkali bertahan dalam ego kami masing-masing. Dia bilang saya egois, tapi terkadang saya juga menganggap dia egois. Saya selalu ingin jadi yang dia inginkan, tapi sekali lagi, itu tidak mudah karena kebiasaan kami yang bertabrakan.

Di hari itu, dia pernah berpikir dan mengatakan dia menyerah akan saya. Saya memohon, jangan sampai hubungan yang penuh kejutan ini berakhir begitu saja. Entah apa yang ada di otak saya waktu itu, sebelumnya saya tidak pernah mempertahankan hubungan sekeras ini, saya hanya ingin hubungan ini terus berlanjut.

Dan sekarang perasaan saya galau. Lagi-lagi saya membuat salah. Dia marah. Saya pun maklum karena memang saya yang bodoh dan salah. Namun, perasaan saya tidak tenang. Lagi-lagi saya merasa sangat bodoh, rendah diri, dan sakit. Ya sakit. Sakit tepat di belakang sternum dan jantung saya. Sangat menusuk, karena teringat semua…semua kejadian di hari itu.