GALAU.

Standard

Punya blog itu sangat berguna ya. Disaat pikiran saya terlalu penuh, update status di twitter atau facebook pun sudah tidak bisa lagi ngewakilin semua perasaan dan pikiran saya yang meluap-luap.

Ya contohnya seperti yang saat ini saya rasakan. Mungkin untuk sebagian kalian, masalah tentang hubungan kalian dengan partner hidup kalian bukan masalah besar. Kalian mungkin bisa cuek dan menganggap masalah ini mudah. Tapi entah mengapa, masalah ini adalah masalah pertama yang selalu membuat perasaan dan pikiran saya kacau, disamping banyak masalah-masalah lainnya.

Saya tahu saya salah dan saya tahu dia selalu mengingatkan saya. Dia juga selalu mengajarkan saya untuk bisa menjadi dewasa. Itu suatu hal yang positif khususnya untuk diri saya sendiri. Tapi, saya bingung, merubah kebiasaan saya selama 9 tahun hanya dalam waktu kurang dari 6 bulan itu bukan hal yang mudah. Semua hal butuh proses, dan tentunya butuh waktu untuk proses itu.

Selama hampir 6 bulan ini saya mempelajari sifatnya, saya berusaha untuk mengerti apa hal yang disukai dan tidak disukainya. Saya berusaha menghapal semua kebiasaannya. Tak mudah untuk memahami semua itu karena sebagian besar kebiasaan kami sangat berbeda. Ya karena itulah, perdebatan sering terjadi, sakit hati dan amarah yang meluap-luap sering singgah di hati kami masing-masing.

Saya memang belum lulus untuk bisa mengerti dia sepenuhnya. Kami pun seringkali bertahan dalam ego kami masing-masing. Dia bilang saya egois, tapi terkadang saya juga menganggap dia egois. Saya selalu ingin jadi yang dia inginkan, tapi sekali lagi, itu tidak mudah karena kebiasaan kami yang bertabrakan.

Di hari itu, dia pernah berpikir dan mengatakan dia menyerah akan saya. Saya memohon, jangan sampai hubungan yang penuh kejutan ini berakhir begitu saja. Entah apa yang ada di otak saya waktu itu, sebelumnya saya tidak pernah mempertahankan hubungan sekeras ini, saya hanya ingin hubungan ini terus berlanjut.

Dan sekarang perasaan saya galau. Lagi-lagi saya membuat salah. Dia marah. Saya pun maklum karena memang saya yang bodoh dan salah. Namun, perasaan saya tidak tenang. Lagi-lagi saya merasa sangat bodoh, rendah diri, dan sakit. Ya sakit. Sakit tepat di belakang sternum dan jantung saya. Sangat menusuk, karena teringat semua…semua kejadian di hari itu.

Advertisements

11 thoughts on “GALAU.

  1. sure, that match was the greatest one ever seen
    well, long time no see newer posts of yours. been busy with something?
    visit mine back 😉

    by the way, hope the best for your problems. it’s sounds complicated

  2. yah memang ndak dalam percintaan ndak dalam persahabatan semuanya perlu adaptasi dan saling pengertian, coba yang sabar da mengalah untuk kebaikan, tentu yang sabar dan mengalah selama dalam proses pembelajaran akan selalu dapet ganjaran dari Tuhan… 🙂
    kometnya kek ngerti (sotoy) banget ya Mel… 😀

  3. kalo saya sendiri sih, dalam percintaan tak akan terlalu memaksakan cinta itu…. sampai menghapal semua kebiasaannya, hmmm..

    hanya pendapat saya… pasir yang terlalu erat digenggam hanya akan meninggalkan sedikit di tangan kita…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s