Karena terlambat..

Standard

Di sela kuliah Histologi ini, gue yang dateng telat, udah nggak mudeng lagi dengerin si dokter ini nerangin. Blok baru dimulai, kali ini gue masuk di Blok Integumen (Kulit). Sebenernya dosennya baik, masih ngebolehin gue masuk setelah terlambat 20 menit. Tapi karena gue telat, gue dapet kursi di paling atas dan belakang, alhasil gue ga bisa fokus dengerin kuliah ini. Gue malah asik mengepost ini (jangan ditiru yah adik2..)

Dan yang lebih nggak menguntungkan, tadi pagi gue baru minum obat yang bikin skrg gue sangaaaatt mengantuk. Hoooaaaaahmmm.. Jam segini uda ngantuk,apa kabar kuliah gue yang hari ini ada praktikum sampe jam 4? Hmm.. We’ll see.. Hehe..

Perahu yang Berhenti Berlayar.

Standard

Ketika perahu itu datang menjemput sekitar setahun yang lalu, aku menyambutnya dengan gempita. Harapan dan kebahagiaan menyelimuti hatiku saat itu. Kurasa, dia memang orang yang paling tepat yang bisa membawaku berlayar bersama mengarungi lautan kehidupan yang luas. Meski terkadang badai menerpa dan menggoyahkan perahu kami, kami tetap bertahan dan mengondisikan agar layar perahu itu tetap mengembang sehingga kami bisa terus berlayar. Kami bekerja sama dalam menambal bagian dari tubuh perahu kami yang bocor sehingga perahu kami tidak tenggelam.

Namun, 2 bulan terahir ini nampaknya kami merasa tidak bisa terus-menerus menambal kebocoran perahu kami yang selalu berlubang di tempat yang sama. Walaupun kami tahu kami tidak bisa hidup sendirian tanpa satu sama lain, , ternyata itu tidak cukup kuat untuk menjadi tiang penyangga paerahu kami, kami mulai merasa letih untuk terus mengembangkan layar kami karena badai semakin kuat. Kami mulai malas bekerja sama, mulai egois, dan saling mengandalkan satu sama lain. Kekokohan perahu kami tiba-tiba pudar. Setahun ini perahu kami sangat terkenal dengan kekokohannya dalam menerjang badai yang semakin kuat. Namun, sekarang tidak lagi.

Dia merasa lelah untuk menjadi nahkoda perahu kami. Aku merasa lelah menjadi navigator selama perjalanan kami. Dan kemudian, badai datang sekali lagi dengan hantaman yang sangat kuat! Kami yang sudah letih pun tak kuat lagi menahannya. Lubang yang selalu ada ditempat yang sama itu semakin lama semakin besar membuat perahu kami tak seimbang lagi. Layar kami sudah robek. Dan hanya dalam hitungan menit, perahu yang kami pertahankan selama setahun itu terbelah dua, tenggelam jauh ke dasar laut. Begitu juga dengan kami, terlempar ke dalam laut, tanpa berpelukan, mati kedinginan secara terpisah.

Dan perahu kami, berhenti berlayar.