Siapa figur Ayah itu?

Standard

Bandung, 1 Mei 2011

Hari ini hari yang penting buat adikku. Dia sedang menjalani ujian masuk di salah satu institut yang cukup bergengsi di Bandung. Aku, kakak, mama dan ayah tiriku ikut mengantarnya. Kami sempat bermalam di salah satu rumah teman mama. Rumah berkesan minimalis modern dengan gaya besi dan kayu yang garis-garis lurus dan sejuk ini sangat membuatku betah. Ini hari terakhir kami di Bandung dan siang ini, setelah adik selesai ujian, kami siap untuk kembali ke Jakarta.

Tapi bukan cerita perjalanan kami yang mau aku ceritakan.

Adikku, satu-satunya adikku, anak paling kecil di keluarga kami, sebentar lagi akan menjadi mahasiswa. Dia sudah menjalani Ujian Nasional seminggu yang lalu. Dia berniat melanjutkan pendidikannya di PTN di Bandung. Mama dan kami kakak-kakaknya mendukung penuh keputusannya.
Bicara tentang perkuliahan, pasti membutuhkan biaya. Ayahku, ayah kandungku,yang sudah tidak menafkahi kami 7 tahun terakhir nampaknya sudah benar-benar angkat tangan dan tidak mau tahu urusan biaya pendidikan kami. Selama ini, hanya mama dan kakak-kakakku saja yang membiayai hidupku dan adikku. Ayah tiriku, bukannya dia tidak peduli,tapi aku pun juga tidak sudi membiarkannya membiayai pendidikanku.

Aku benci Ayah. Figur ayahku yang dulu aku kenal, sudah hilang ditelan bumi. Aku sangat tidak mengenalnya lagi.

Posted with WordPress for BlackBerry.