Stase Jiwa (part 2)

Standard

Stressor. Penyebab. Pencetus orang itu jadi salah satu pasien di RSJ itu macem-macem. Stressor satu orang itu pasti ga selalu sama kaya yang lainnya. Apa yang menurut kita hal simple dan ga mungkin bikin kita jadi ‘gila’, ternyata belum tentu orang lain juga mikir kaya gitu.

Sebagian besar pasien yang datang ke IGD RSJ disini, pasti beda-beda stressor nya. Kebanyakan emang karena masalah ekonomi dan pekerjaan. Tapi kisahnya ya beda-beda. Ada yang dianiaya majikannya, ada yang stres karena dia ga bisa bayar kosan, ada yang mengalami gangguan jiwa setelah dia ikut suatu ritual keagamaan, dan lain-lain.

Usia pasien yang datang ke IGD itu rata-rata masih produktif. Sekitar 20-28 tahun. Malah pernah ada anak SMP udah stres karena mau UAN. Ya Allah.. Ga bisa apa-apa lagi gue selain bersyukur gue masih diberi kesehatan jiwa dan jasmani.

Dasarnya ilmu jiwa itu adalah komunikasi. Gimana cara kita nanyain apa teori yang harus ditanya ke pasien tentang keluhan-keluhannya, lalu diintegrasikan jadi satu dan lahirlah sebuah kesimpulan tentang gejalanya dan akhirnya kita bisa buat diagnosisnya. Ga semudah ngelakuin wawancara kayak di cabang ilmu kedokteran lainnya yang sebatas keluhan fisik. Karena disini kita harus terampil untuk bisa jawab dan merespon semua tindakan pasien yang pola pikirnya uda ga realistis lagi.

Hmm. Oke. Lanjut kapan-kapan lagi ya. Mau jaga malem di IGD. Semoga gue menemukan pelajaran baru malam ini. Adios! 🙂

Advertisements

Stase Jiwa (part 1)

Standard

Makjaaangg… Udah lama banget ya gue ga update ni blog. Entah belom punya feel aja buat update. Tapi sekarang udah! 😀

Alhamdulillah gue udah koas sekarang. Gue berhasil menyelesaikan Sarjana Kedokteran gue dan berlanjut ke co-assistant alias koas alias Dokter Muda. Setelah Angkat Janji Dokter Muda, gue udah resmi jadi Melati Pratiwi, S.Ked 😀 Alhamdulillah 😀

Sekarang gue mau cerita tentang stase pertama gue menjadi koas. Jeng..jengg…jeeeengg… Dan gue dapet stase pertama : Psikiatri alias Jiwa. DEG. Gue yang notabene agak takut sama apa yang orang awam sebut sebagai “orang gila” dan sekarang gue mesti berani nyamperin, wawancarain, dan nenangin mereka. DANG!

Sampailah gue dan 8 temen gue di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Amino Gondohutomo di daerah Pedurungan, Semarang. Yak, stase Jiwa ini gue langsung ditempatin di luar kota, jadi anak rantau selama sebulan. Gue ga pernah masuk RSJ sebelumnya, gatau mesti ngapain disana, ga kenal dokter-dokter disana, dan yang paling gue pikirkan adalah….gimana caranya gue meriksain pasien disana? :O

Time goes by cuy… Gue udah memasuki minggu ke-2 disini. Gue udah banyak kenal sama pasien-pasiennya. Gue follow-up mereka tiap jam 7 pagi di bangsal mereka masing-masing. Gue samperin mereka, gue tanya-tanya mereka, dan harus menyimpulkan apakah gejala-gejala mereka masih ada. Apa yang gue dapat dari wawancara itu harus gue isi di Rekam Medik punya masing-masing pasien disana untuk di cek sama dokter spesialis Kejiwaannya nanti pas dokter-dokter itu dateng.

Percaya atau ga, gue agaknya menikmati rutinitas ini. Gue belajar gimana caranya memahami orang bahkan orang yang mengalami gangguan jiwa. Belum lagi kalo denger kisahnya mereka sampai mereka bisa ada di RSJ itu dari keluarganya, yeah well, pasien-pasien disana sebagian besar emang ga ngerti kenapa mereka ada disana. Sempet ada salah satu keluarga pasien gue, yang curhat abis-abisan ke gue tentang keluarganya sampai nangis. Ya Allah… Ga kuat gue deneger kisahnya, jadi malu sama diri gue sendiri yang dikit-dikit ngeluh padahal apa yang gue alami belom ada apa-apanya sama apa yang dialami pasien ataupun keluarga pasien disana. Ini bener-bener pengalaman berharga buat gue.

Part selanjutnya, gue coba lebih membahas tentang ilmu kejiwaannya ya 😉

I think I’m starting to lose my mind.

Standard

I’m depressed.
Problems always never get too far from me lately. What kinda problems? Anything, like family, job, relationship with my bf, and the biggest one is a problem with my self.

All of those pressure sometimes make me stronger. Push me to give my best and make me try to stand still to face it. But u know, u just can’t always face all of those problems. Get many, sooo many things to think. There’s a time when u feel sooooo bored, trying to loosen up the tie that bind tightly on ur chest, and when u can’t do it u feel so terrible, don’t know what to do, feeling so empty, even u can’t tell ur closest friends/bf what the hell is going on! ure losing ur grip ur hold on to and finally u feel that ure out of ur mind.

Yeah. I’m in that final phase.

Those problems cause my freaky mind lately. Any small detail I consider it to be a big problem. I think into that small detail too much and finally my brain doesn’t seem to hold on any longer and change it into a tick-tack running bomb that ready to explode anytime. And when it explode, I think I will be in a mental hospital.

Depress emotion, lose ur interest and happiness, and always feel tired–> Depression Main Symptoms. (Diagnosis of Mental Disorder, as it were taught at my med school lately)

Dear Psychiatrist, I need ur help. Maybe some counseling and some of ur anti-depression medicine.

Perahu yang Berhenti Berlayar.

Standard

Ketika perahu itu datang menjemput sekitar setahun yang lalu, aku menyambutnya dengan gempita. Harapan dan kebahagiaan menyelimuti hatiku saat itu. Kurasa, dia memang orang yang paling tepat yang bisa membawaku berlayar bersama mengarungi lautan kehidupan yang luas. Meski terkadang badai menerpa dan menggoyahkan perahu kami, kami tetap bertahan dan mengondisikan agar layar perahu itu tetap mengembang sehingga kami bisa terus berlayar. Kami bekerja sama dalam menambal bagian dari tubuh perahu kami yang bocor sehingga perahu kami tidak tenggelam.

Namun, 2 bulan terahir ini nampaknya kami merasa tidak bisa terus-menerus menambal kebocoran perahu kami yang selalu berlubang di tempat yang sama. Walaupun kami tahu kami tidak bisa hidup sendirian tanpa satu sama lain, , ternyata itu tidak cukup kuat untuk menjadi tiang penyangga paerahu kami, kami mulai merasa letih untuk terus mengembangkan layar kami karena badai semakin kuat. Kami mulai malas bekerja sama, mulai egois, dan saling mengandalkan satu sama lain. Kekokohan perahu kami tiba-tiba pudar. Setahun ini perahu kami sangat terkenal dengan kekokohannya dalam menerjang badai yang semakin kuat. Namun, sekarang tidak lagi.

Dia merasa lelah untuk menjadi nahkoda perahu kami. Aku merasa lelah menjadi navigator selama perjalanan kami. Dan kemudian, badai datang sekali lagi dengan hantaman yang sangat kuat! Kami yang sudah letih pun tak kuat lagi menahannya. Lubang yang selalu ada ditempat yang sama itu semakin lama semakin besar membuat perahu kami tak seimbang lagi. Layar kami sudah robek. Dan hanya dalam hitungan menit, perahu yang kami pertahankan selama setahun itu terbelah dua, tenggelam jauh ke dasar laut. Begitu juga dengan kami, terlempar ke dalam laut, tanpa berpelukan, mati kedinginan secara terpisah.

Dan perahu kami, berhenti berlayar.

Negeri 5 Menara

Standard

Pernah denger judul buku ini?
Yap, buku ini adalah novel yang terinpirasi oleh sebuah kisah nyata yang ditulis oleh A.Fuadi, mantan wartawan TEMPO dan VOA, Direktur Komunikasi di sebuah NGO konservasi, Alumni Pondok Modern Gontor, HI Unpad, George Washington University, dan Royal Holloway University di London.

Negeri 5 Menara

Negeri 5 Menara

Novel ini bercerita tentang pengalaman, mimpi, pengetahuan, dan segudang kata-kata motivasi maupun inspirasi yang menjadi kenyataan, bukan sekedar kata-kata omong kosong. Bukan cuma itu, disini, gue bener-bener jadi ngerti gimana harusnya kehidupan pesantren itu berjalan. Ga cuma ngerti agama doang dan ujung2nya jadi Kiai kampung yang cuma bisa ngomong agama. Disini, benar-benar dicontohin gimana jadi individu Islam yang ngerti kesenian, peradaban dunia, 2 bahasa internasional (Arab dan Inggris), pengetahuan eksak dan non-eksak. Komplit.

Gue sangat terinspirasi dan bahkan sedikit memotivasi gue untuk bisa terus meraih mimpi-mimpi gue yang selama ini gue rasa pesimis untuk bisa diraih. Ulasan singkat gue tentang novel ini hanya ingin menyampaikan rasa kagum gue sama penulis satu ini yang benar-benar bisa nyampein inspirasi dan motivasi yang pernah dia alami dulu hingga benar-benar nyampe ke hati gue.

IT’S A GREAT BOOK! Recommended to read.

up and down.

Standard

Baru aja ‘naik’, eh ‘jatuh’ lagi.
Baru aja mencoba untuk semangat, merubah semua kebiasaan buruk, menata ulang kehidupan, eh udah harus dihadapin sama masalah lagi.

Saya capek, Tuhan.
Capek untuk selalu mencoba bangkit ketika saya rubuh.
Kapan saya bisa menikmati hasil dari jerih payah saya?
Kapan saya bisa selalu tersenyum dan tidak menangis lagi?
Kapan saya bisa melupakan semua kenangan dan pikiran buruk itu?
Saya lelah, Tuhan.
Lelah untuk selalu menangis dengan masalah yang sama.

Tapi saya tahu Tuhan menjawab apa. Dia selalu mengingkatkan saya agar saya sabar. Karena saya tahu, Dia selalu memberi semua yang terbaik demi kedewasaan saya. Karena saya tahu, Dia tidak pernah capek atau lelah menjagaku.
Berikan saya kekuatan untuk menjalani semua ini, Tuhan. Saya tahu Engkau pasti mendengar.

neu.

Standard

Neu means NEW!
Today is the day. I shud start all over again. From the beginning. From the lowest ground to get my peak back.
I shud REALLY… REALLY understand and begin to throw away my old behavior.
Today is the day. I wanna make him happy. I can’t do anything special, anything extraordinary, but I will do my best with my own way.
And..
TODAY IS THE DAY.. I gotta go to surprise him! Wish me luck! 😉