Dia punya caranya sendiri.

Standard

What a super day!
Awalnya sudah berpikiran akan gabut sekali setelah pulang kuliah siang tadi. Tiba-tiba dia menerima ajakan saya di hari sebelumnya dan kami berjanji bertemu setelah saya pullang kuliah. Happy and feel so much in love, selalu itu yang saya rasakan setiap bertemu dengannya.

Dia berjanji menyanyikan lagu2 romantis jaman2nya David Foster dkk kepada saya. Bahkan dia berjanji akan memainkan satu lagu dengan piano ketika saya berkunjung ke rumahnya nanti. Entah apa yang ada di pikirannya waktu dia membuat janji itu, yang jelas saya senang sekali. Tidak biasanya dia bersikap se-romantis itu, biasanya dia lebih terkesan santai, cuek, dan tidak terlalu peduli oleh hal2 yg berbau romantis.

Dia menepati janjinya. Dia menanyikan cukup banyak lagu2 romantis jaman orang tua kami dulu, seperti Heartwave, Chicago, dan lain-lain. Semua lagu cinta. Semua lagu yg mencerminkan “i wanna be with u forever”. Ketika dia menyanyi, I looked him in the eye…entah karena malu atau canggung krn sebelumnya dia belum pernah melakukan ini, atau apa…tp yg jelas, kita jarang bertatapan mata. But I just know it that he really mean it when he sang it.

Mungkin dia bukan tipe laki-laki pada umumnya yang senang dengan lagu2 terbaru dan memainkan gitar untuk kekasihnya. Mungkin dia bukan tipe laki-laki yang bisa setiap saat bersikap romantis (walaupun ya memang kebanyakan perempuan akan sangat senang dengan itu). Tapi, saya tahu.. Dia punya caranya sendiri untuk menunjukkan apa yang ada di hatinya saat itu. Dia punya cara sendiri untuk bisa menyenangkan hati saya yang sebagian besar mungkin berbeda dengan cara laki-laki lain. Dia punya caranya sendiri dalam bersikap romantis. He’s just unique.

Semoga, dia tetap akan selalu membuat senang hati saya 🙂

Perahu yang Berhenti Berlayar.

Standard

Ketika perahu itu datang menjemput sekitar setahun yang lalu, aku menyambutnya dengan gempita. Harapan dan kebahagiaan menyelimuti hatiku saat itu. Kurasa, dia memang orang yang paling tepat yang bisa membawaku berlayar bersama mengarungi lautan kehidupan yang luas. Meski terkadang badai menerpa dan menggoyahkan perahu kami, kami tetap bertahan dan mengondisikan agar layar perahu itu tetap mengembang sehingga kami bisa terus berlayar. Kami bekerja sama dalam menambal bagian dari tubuh perahu kami yang bocor sehingga perahu kami tidak tenggelam.

Namun, 2 bulan terahir ini nampaknya kami merasa tidak bisa terus-menerus menambal kebocoran perahu kami yang selalu berlubang di tempat yang sama. Walaupun kami tahu kami tidak bisa hidup sendirian tanpa satu sama lain, , ternyata itu tidak cukup kuat untuk menjadi tiang penyangga paerahu kami, kami mulai merasa letih untuk terus mengembangkan layar kami karena badai semakin kuat. Kami mulai malas bekerja sama, mulai egois, dan saling mengandalkan satu sama lain. Kekokohan perahu kami tiba-tiba pudar. Setahun ini perahu kami sangat terkenal dengan kekokohannya dalam menerjang badai yang semakin kuat. Namun, sekarang tidak lagi.

Dia merasa lelah untuk menjadi nahkoda perahu kami. Aku merasa lelah menjadi navigator selama perjalanan kami. Dan kemudian, badai datang sekali lagi dengan hantaman yang sangat kuat! Kami yang sudah letih pun tak kuat lagi menahannya. Lubang yang selalu ada ditempat yang sama itu semakin lama semakin besar membuat perahu kami tak seimbang lagi. Layar kami sudah robek. Dan hanya dalam hitungan menit, perahu yang kami pertahankan selama setahun itu terbelah dua, tenggelam jauh ke dasar laut. Begitu juga dengan kami, terlempar ke dalam laut, tanpa berpelukan, mati kedinginan secara terpisah.

Dan perahu kami, berhenti berlayar.

stupidity.

Standard

I should know from the start,
I would never be so special to you.
I should know from the start,
Your Mom would never really like the REAL me.
I should know from the start,
That I would never be the 1st priority for you.

I should know from the start,
You would never give me some attention when ur busy, even when I’m sick.
I should know from the start,
You will never wrong and unbeatable, even with my tears.
I should know from the start,
That I will always be a disturber for you, even I’m your girl.
And I should know from the start,
I’m the one to be blamed just because I need some understanding from you.

F***-lentine.

Standard

The negotiation didn’t work. We failed.
And things get worse than ever.
I don’t seem like I understand him again….neither of him.

Tidak ada yang mau mengalah.
Tidak ada ajakan untuk saling introspeksi diri.
Titik dimana kami sama-sama ingin saling dimengerti.
Dan ini buruk. Sangat buruk.

He talked about ‘break up’ again.
And I can’t say anything about that.
It seems it’s all that he wanted.
And apparently… I never be good enough for him.. and his mom 😦

begging for some attention.

Standard

Terasa kosong. Bukan. Bukan kosong. Tapi apa namanya saya juga tak tahu.
Hanya sedikit perhatian yang saya butuh, tapi ternyata itu pun saya tak dapat.
Saya berusaha memahaminya, semua kesibukannya, setiap penyakit yang sedang menyerangnya, barang kebutuhannya, tapi ternyata…semua itu tidak cukup menjadikan saya yang terbaik baginya.

Dia selalu mengeluh karena saya tidak pernah puas akan perubahannya. Dia selalu mengeluh karena saya selalu menganggapnya kurang. Tapi nyatanya, saya lah yang tidak bisa membuatnya bahagia. Saya yang selalu gagal menjadi yang terbaik untuknya. Saya yang selalu gagal menjadi prioritas dalam hidupnya.

Sering kali saya merasa saya tidak pantas untuk nya dan untuk kehidupannya yang sangat berbeda dengan saya. Namun, saya selalu berusaha menyukai apa yang dia sukai, walaupun hal itu tidak bisa berlangsung lama. Semangat saya untuk bisa menjadi prioritas hidupnya pun perlahan turun.

Ketika itu, saya hanya berharap dia akan menelpon atau setidaknya menanyakan kabar saya ditengah kesibukannya yang begitu menyita waktunya, setelah saya mengabari keadaan saya malam itu. Dan saya berharap begitu pun bukan karena tak ada alasan, ketika itu saya sakit yang cukup membuat saya khawatir. Tetapi, hari itu….hanya satu pesan singkat yang datang dan itu hanya pernyataan jika dia memang sangat sibuk.
Ketika saya merasa kesal, dia berkata yang menyatakan bahwa saya berlebihan karena sehari sebelumnya kami baru saja bertemu.

Mungkin memang sudah jelas, saya tidak bisa menjadi orang yang dia inginkan. Saya selalu gagal…untuk mendapatkan perhatiannya 😦

neu.

Standard

Neu means NEW!
Today is the day. I shud start all over again. From the beginning. From the lowest ground to get my peak back.
I shud REALLY… REALLY understand and begin to throw away my old behavior.
Today is the day. I wanna make him happy. I can’t do anything special, anything extraordinary, but I will do my best with my own way.
And..
TODAY IS THE DAY.. I gotta go to surprise him! Wish me luck! 😉

GALAU.

Standard

Punya blog itu sangat berguna ya. Disaat pikiran saya terlalu penuh, update status di twitter atau facebook pun sudah tidak bisa lagi ngewakilin semua perasaan dan pikiran saya yang meluap-luap.

Ya contohnya seperti yang saat ini saya rasakan. Mungkin untuk sebagian kalian, masalah tentang hubungan kalian dengan partner hidup kalian bukan masalah besar. Kalian mungkin bisa cuek dan menganggap masalah ini mudah. Tapi entah mengapa, masalah ini adalah masalah pertama yang selalu membuat perasaan dan pikiran saya kacau, disamping banyak masalah-masalah lainnya.

Saya tahu saya salah dan saya tahu dia selalu mengingatkan saya. Dia juga selalu mengajarkan saya untuk bisa menjadi dewasa. Itu suatu hal yang positif khususnya untuk diri saya sendiri. Tapi, saya bingung, merubah kebiasaan saya selama 9 tahun hanya dalam waktu kurang dari 6 bulan itu bukan hal yang mudah. Semua hal butuh proses, dan tentunya butuh waktu untuk proses itu.

Selama hampir 6 bulan ini saya mempelajari sifatnya, saya berusaha untuk mengerti apa hal yang disukai dan tidak disukainya. Saya berusaha menghapal semua kebiasaannya. Tak mudah untuk memahami semua itu karena sebagian besar kebiasaan kami sangat berbeda. Ya karena itulah, perdebatan sering terjadi, sakit hati dan amarah yang meluap-luap sering singgah di hati kami masing-masing.

Saya memang belum lulus untuk bisa mengerti dia sepenuhnya. Kami pun seringkali bertahan dalam ego kami masing-masing. Dia bilang saya egois, tapi terkadang saya juga menganggap dia egois. Saya selalu ingin jadi yang dia inginkan, tapi sekali lagi, itu tidak mudah karena kebiasaan kami yang bertabrakan.

Di hari itu, dia pernah berpikir dan mengatakan dia menyerah akan saya. Saya memohon, jangan sampai hubungan yang penuh kejutan ini berakhir begitu saja. Entah apa yang ada di otak saya waktu itu, sebelumnya saya tidak pernah mempertahankan hubungan sekeras ini, saya hanya ingin hubungan ini terus berlanjut.

Dan sekarang perasaan saya galau. Lagi-lagi saya membuat salah. Dia marah. Saya pun maklum karena memang saya yang bodoh dan salah. Namun, perasaan saya tidak tenang. Lagi-lagi saya merasa sangat bodoh, rendah diri, dan sakit. Ya sakit. Sakit tepat di belakang sternum dan jantung saya. Sangat menusuk, karena teringat semua…semua kejadian di hari itu.