Baru kali ini ada kakek2 nyolot ga ketulungan…

Standard

Holaaa! Hahaa.. gilaa, uda banyak bgt sarang laba2 disini karena ga pernah gue sentuh lagi.. Kinda busy lately, and had not so much time to spend the time with my laptop expect for college’s assignments 😦

Okay then. Sekarang, mumpung gue uda libur sampe September nanti, gue akan sedikit bercerita tentang kejadian super duper nyebelin yang baru aja gue alami tadi pagi.

Gue tinggal di rumah kontrakan di daerah Pangkalan Jati, Jatiwaringin, Jakarta. Sebenernya ini bukan rumah asli gue, tapi yah, ceritanya rumit gmn akhirnya gue bisa sampe disni, jadi mungkin lain kali gue cerita tentang ini. Semacam komplek kecil, ada 5 rumah yang berhadap2an disini, dipisahin sama jalan yang cukup lebar untuk parkir kendaraan, dll. Gue emang ga terlalu kenal tetangga sini nama2nya, tapi kalo kenal muka udah pasti dan kami juga saling menyapa.

Pagi tadi, sekitar pukul 10 WIB, dirumah cuma ada gue sama kakak kedua gue, gue manggilnya Kak Shinta. Kita berdua lagi duduk di ruang tamu, dia lagi makan, sedangkan gue lagi telponan sama kakak gue yg pertama (yg uda nikah,jadi ga tinggal disini lagi), gue manggil dia Kak Ateh. Gue lagi asik2nya telponan curhat-curhatan dan kangen2an sama Kak Ateh di telpon, dan tiba2…

DUK DUK DUK!!! DUK DUK DUK!!
“Woy, Keluar semuaaa kalian! Dasar org kontrakan pemalas! Dibilangin ga ngerti2!!”

Gue sama Kak Shinta pun kaget. Setelah gue denger ada gedoran pintu berkali2 dengan suara keras dari rumah tetangga sebelah, gantian pintu rumah gue yang digedor2. Ada 2 bapak2. Satu agak tinggi, badan besar, pake topi, teriak2 marahin kami semua di komplek kontrakan ini, bawa gagang sapu untuk gedor2in pintu kami satu2, dia si Pak Lurah. Yang satu lagi, kakek tua botak nyebelin, yang ngomelnya ga kalah gede sambil ngata2in kami dan belakangan gue tau dia Pak RW kami.

Kak Shinta ga mungkin keluar karena dia lagi makan. Mau ga mau gue yang buka pintu dan keluar sambil ngelongok kebingungan ada apa dengan bapak2 ini, sambil terus nempelin hape gue di telinga karena Kak Ateh masih pengen ngobrol diseberang sana.

“Ada apa,Pak?” Gue nanya dengan sangat sopan.
“Udah keluar sekarang,bersihin ni jalanan! Itu lagi telponan sama siapa lagi kamu?Udah tutup telponnya,ga usah banyak ngomong,bersihin ni jalanan!” Pak Lurah ngebentak gue tiba2.
Gue langsung emosi, “Yee, ini sama kakak saya lah!enak aja nyuruh2 saya tutup telpon.Lagian ada apa sih saya ga ngerti pak! Jangan langsung marah2 dong! Ngomong baik2!” Gw tatap tu mata Pak Lurah lekat2.
Dia jawab, “Ya saya ga marah kok..” dengan nada bicara yang emang sedikit rendah daripada tadi.
Ga lama, tu kakek2 sialan a.k.a Pak RW, langsung ngebentak gue, “Heh dibilangin ngelawan lagi kamu! Ga liat apa saya sama Pak Lurah uda ada disini masih aja berani ngomong! Kita mau ada lomba, dan komplek kontrakan ini selalu males ga pernah bersih2! Gimana kita bisa menang?Dibilangin orang tua mau ngelawan kamu HAH?!”
DUUAARRR!! Meledak emosi gue. Gue bales lagi, “Ya tapi ngomongnya baik2! Dateng2 langsung gedor2 pake gagang sapu, marah2, bentak2, saya ga ngerti dan gatau pak kalo ada lomba!”
Dia ga mau kalah, “Heeehhh masih bisa ya berani ngomong kamu! Tinggal di kontrakan aja BELAGU!”

Anj**g ni orang emang. Gue ampe speechless denger kakek2 ga ada sopan2nya gitu. Gue diem sambil gue tatap terus tu Pak RW lekat2. Matanya dia pun uda siap untuk ngebales gue lagi. Akhirnya, gue sama tetangga2 gue yg lain pun mungut2in sampah dan nyabutin rumput yg ada di depan rumah kami masing2. Kak Ateh, yang denger semua bentakan mereka daritadi (telpon ga gue tutup selama gue adu mulut itu), ikutan emosi juga dia. Dia bilang, gue jangan terima dibenntak2 gitu. Setelah semua warga kontrakan disini dia marah2in, mereka pun pergi.

Selagi kami bersih2in jalanan depan kontrakan kami masing2, gue, bapak2 sini, dan ibu2nya, bahkan pembantu2nya, jadi pada nge-gosip. Jadi ternyata, ada surat pemberitahuan yang ditempel di tembok jalan raya yang isinya ngasitau untuk selalu jaga kebersihan karena Selasa besok mau ada lomba.

Gue,kak Shinta, dan nyokap yang belakangan ini pulang malem terus, ga tau apa2 tentang surat pemberitahuan itu.Bahkan gue gatau kalo ada lomba. Tiba2 mereka dateng bentak2 gue dan kakak gue, mukul2in pintu dan tembok rumah gue pake gagang sapu.. Apa2an itu.. Ga abis pikir ada ya Lurah dan RW yang segitu pengennya menang lomba dan kelakuannya minus banget kaya gitu.

Asal kalian tau, ga pernah kok jalanan depan rumah kami, pengguna kontrakan, sampe segitu kotornya. Paling ya cuma rumput2 liar yang tingginya maksimal 10 cm. Dan itu pun biasanya sebulan beberapa kali dicabutin kok. Mereka aja lebai dan apesnya kami adalah mereka kesini pas kami belom pada nyapu pekarangan kami.

Dan mestinya mereka ngerti, orang yang ngontrak rumah itu alasannya macem2. Ada yang emang ga bisa beli rumah, ada yang cuma deketin ke tempat kerjanya, dll. Jadi ya wajar, kami penghuni komplek kecil kontrakan ini pun ga selalu bisa hadir di kerja bakti mingguan karena kami punya kehidupan lain di daerah lain tempat dimana keluarga kami yang lain tinggal.

Birokrat macam apa kayak gini. Ga ada sopan2nya sama warganya. Dan gue baru kali ini, segini keselnya sama kakek2 yg ga gue kenal sampe mau gue sumpahin! GRRRRR!!!!!!! Hipertensi dah tu kakek!!!
*menulis dengan emosi meluap-luap*

Advertisements

Siapa figur Ayah itu?

Standard

Bandung, 1 Mei 2011

Hari ini hari yang penting buat adikku. Dia sedang menjalani ujian masuk di salah satu institut yang cukup bergengsi di Bandung. Aku, kakak, mama dan ayah tiriku ikut mengantarnya. Kami sempat bermalam di salah satu rumah teman mama. Rumah berkesan minimalis modern dengan gaya besi dan kayu yang garis-garis lurus dan sejuk ini sangat membuatku betah. Ini hari terakhir kami di Bandung dan siang ini, setelah adik selesai ujian, kami siap untuk kembali ke Jakarta.

Tapi bukan cerita perjalanan kami yang mau aku ceritakan.

Adikku, satu-satunya adikku, anak paling kecil di keluarga kami, sebentar lagi akan menjadi mahasiswa. Dia sudah menjalani Ujian Nasional seminggu yang lalu. Dia berniat melanjutkan pendidikannya di PTN di Bandung. Mama dan kami kakak-kakaknya mendukung penuh keputusannya.
Bicara tentang perkuliahan, pasti membutuhkan biaya. Ayahku, ayah kandungku,yang sudah tidak menafkahi kami 7 tahun terakhir nampaknya sudah benar-benar angkat tangan dan tidak mau tahu urusan biaya pendidikan kami. Selama ini, hanya mama dan kakak-kakakku saja yang membiayai hidupku dan adikku. Ayah tiriku, bukannya dia tidak peduli,tapi aku pun juga tidak sudi membiarkannya membiayai pendidikanku.

Aku benci Ayah. Figur ayahku yang dulu aku kenal, sudah hilang ditelan bumi. Aku sangat tidak mengenalnya lagi.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Karena terlambat..

Standard

Di sela kuliah Histologi ini, gue yang dateng telat, udah nggak mudeng lagi dengerin si dokter ini nerangin. Blok baru dimulai, kali ini gue masuk di Blok Integumen (Kulit). Sebenernya dosennya baik, masih ngebolehin gue masuk setelah terlambat 20 menit. Tapi karena gue telat, gue dapet kursi di paling atas dan belakang, alhasil gue ga bisa fokus dengerin kuliah ini. Gue malah asik mengepost ini (jangan ditiru yah adik2..)

Dan yang lebih nggak menguntungkan, tadi pagi gue baru minum obat yang bikin skrg gue sangaaaatt mengantuk. Hoooaaaaahmmm.. Jam segini uda ngantuk,apa kabar kuliah gue yang hari ini ada praktikum sampe jam 4? Hmm.. We’ll see.. Hehe..

Perahu yang Berhenti Berlayar.

Standard

Ketika perahu itu datang menjemput sekitar setahun yang lalu, aku menyambutnya dengan gempita. Harapan dan kebahagiaan menyelimuti hatiku saat itu. Kurasa, dia memang orang yang paling tepat yang bisa membawaku berlayar bersama mengarungi lautan kehidupan yang luas. Meski terkadang badai menerpa dan menggoyahkan perahu kami, kami tetap bertahan dan mengondisikan agar layar perahu itu tetap mengembang sehingga kami bisa terus berlayar. Kami bekerja sama dalam menambal bagian dari tubuh perahu kami yang bocor sehingga perahu kami tidak tenggelam.

Namun, 2 bulan terahir ini nampaknya kami merasa tidak bisa terus-menerus menambal kebocoran perahu kami yang selalu berlubang di tempat yang sama. Walaupun kami tahu kami tidak bisa hidup sendirian tanpa satu sama lain, , ternyata itu tidak cukup kuat untuk menjadi tiang penyangga paerahu kami, kami mulai merasa letih untuk terus mengembangkan layar kami karena badai semakin kuat. Kami mulai malas bekerja sama, mulai egois, dan saling mengandalkan satu sama lain. Kekokohan perahu kami tiba-tiba pudar. Setahun ini perahu kami sangat terkenal dengan kekokohannya dalam menerjang badai yang semakin kuat. Namun, sekarang tidak lagi.

Dia merasa lelah untuk menjadi nahkoda perahu kami. Aku merasa lelah menjadi navigator selama perjalanan kami. Dan kemudian, badai datang sekali lagi dengan hantaman yang sangat kuat! Kami yang sudah letih pun tak kuat lagi menahannya. Lubang yang selalu ada ditempat yang sama itu semakin lama semakin besar membuat perahu kami tak seimbang lagi. Layar kami sudah robek. Dan hanya dalam hitungan menit, perahu yang kami pertahankan selama setahun itu terbelah dua, tenggelam jauh ke dasar laut. Begitu juga dengan kami, terlempar ke dalam laut, tanpa berpelukan, mati kedinginan secara terpisah.

Dan perahu kami, berhenti berlayar.

Nggak jelas.

Standard

Entah gimana harus memulai. Semua jadi berbeda. Perasaan jadi nggak karuan. Untuk mengartikan jadi kata-kata saja sulit. Perasaan yang nggak pernah gue rasain sebelumnya.

Pernah nggak sih kalian ngerasa semua yang terjadi itu salah? Ada aja yang bikin emosi, bikin sedih, dan bikin bete. Tapi, sekalinya ada yang bikin seneng, itu ga berlangsung lama, karena tiba-tiba keceriaan itu gampang banget ilang jadi emosi yang ga bisa dikeluarin lagi.

Pernah ga sih kalian lagi susah banget ngejelasin apa yang sebenernya kalian rasain? Saking campur aduk nya.. Saking… aduh.. ga tau lagi deh jelasinnya.. aarrghhh! Apaan sih ni perasaan? ga enak.. dan yg pasti, ga jelas juga! Fufufufu x(

Negeri 5 Menara

Standard

Pernah denger judul buku ini?
Yap, buku ini adalah novel yang terinpirasi oleh sebuah kisah nyata yang ditulis oleh A.Fuadi, mantan wartawan TEMPO dan VOA, Direktur Komunikasi di sebuah NGO konservasi, Alumni Pondok Modern Gontor, HI Unpad, George Washington University, dan Royal Holloway University di London.

Negeri 5 Menara

Negeri 5 Menara

Novel ini bercerita tentang pengalaman, mimpi, pengetahuan, dan segudang kata-kata motivasi maupun inspirasi yang menjadi kenyataan, bukan sekedar kata-kata omong kosong. Bukan cuma itu, disini, gue bener-bener jadi ngerti gimana harusnya kehidupan pesantren itu berjalan. Ga cuma ngerti agama doang dan ujung2nya jadi Kiai kampung yang cuma bisa ngomong agama. Disini, benar-benar dicontohin gimana jadi individu Islam yang ngerti kesenian, peradaban dunia, 2 bahasa internasional (Arab dan Inggris), pengetahuan eksak dan non-eksak. Komplit.

Gue sangat terinspirasi dan bahkan sedikit memotivasi gue untuk bisa terus meraih mimpi-mimpi gue yang selama ini gue rasa pesimis untuk bisa diraih. Ulasan singkat gue tentang novel ini hanya ingin menyampaikan rasa kagum gue sama penulis satu ini yang benar-benar bisa nyampein inspirasi dan motivasi yang pernah dia alami dulu hingga benar-benar nyampe ke hati gue.

IT’S A GREAT BOOK! Recommended to read.

banjir informasi.

Standard

Entah ya ini cuma perasaan gue doang apa gimana. Tapi, kayanya semenjak ada Twitter, semua permasalahan lokal maupun internasional, bener-bener dibahas luas, mendunia, dan membuat masing-masing individu benar-benar bisa menyalurkan opini pada topik yang paling in. Bukan berarti gue baru menyadari ini, tapi makin kesini, makin terasa aja.

Menurut gue ini bagus. Membuat orang-orang jadi peduli masalah di sekitar kita dan agaknya membuat bantuan yang akan tersalurkan menjadi lebih mudah untuk sampai pada targetnya. Sekarang, berita lebih sering muncul dari situs burung berkicau ini, kemudian baru dibahas di TV ataupun surat kabar. Semua orang jadi tahu semua informasi yang penting atau bahkan yang tidak penting untuk kemudian dibahas dalam Twitter dan bahkan bisa menjadi Trending Topic.
Gue lebih bisa mengambil manfaat dari penggunaan Twitter daripada Facebook.

Senang aja rasanya ngebahas topik yang lagi gres baik lokal maupun internasional, sama teman-teman di Twitter. Tuker2an pendapat, ada yang ngotot, ada yang bijak.. Macem-macem lah. Tapi, justru jadi lebih kompak aja keliatannya. Jadi benar-benar tanggap akan suatu permasalahan.

Hari gini masih ketinggalan informasi yang lagi nge-trend?? Apa kata dunia! :p